Sakit. Pulang ke rumah. Dipijitin sama ibu. Ga ngurangin rasa sakitnya, tapi cukup bikin nyaman. Oh ini tempat saya pulang, untuk tidur, mandi, dan esoknya kembali bekerja. Setiap hari. Berangkat pagi, pulang malam. Loyalitas tanpa batas. Tidak bekerja artinya tidak mendapat uang, tidak mendapat uang artinya tidak bisa membeli makanan, kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi saya juga ada lelahnya. Hari-hari dilalui dengan rasa sangat berat kendati sedang tak banyak kerjaan. Sebulan sekali ke dokter, ada saja sakitnya. Cukup untuk membuat stres badan dan pikiran saya. Tidak ada libur, tidak ada cuti, kecuali saya berontak. Saya merasa kesehatan saya terganggu, entah fisik maupun psikis.
Bila tempat bekerja saya tega kepada saya, maka sayapun harus tega pula kepadanya. Saya perlu libur untuk mengistirahatkan badan saya.
Libur pun seharusnya berbeda-beda, libur untuk istirahatkan badan, libur untuk jalan-jalan, juga libur untuk memeriksakan kesehatan.
Karyawan adalah aset perusahaan, tanpa karyawan, perusahaan tak akan berjalan. Kecuali bosnya memang mau cape sendiri, bekerja sendiri. Tapi jgn harap bisa mengembangkan perusahaan bila seperti itu. Perlalukan karyawan baik, awasi dengan baik, semua orang punya potensi tidak jujur, bila tidak diawasi, tidak memakai sistem yang baik, bukan hanya karyawan yang bisa tidak jujur, bahkan bosnya pun bisa tidak jujur. Kalo gini jadi saling membohongi, hubungan jadi tidak sehat. Jadi bos yang baik, jadi karyawan yang baik. Sama sama saling mengawasi. Yah kadang sih malah karyawan dibilang kurang ajar kalo ngasih masukan atau kritik. Tapi bos yang baik akan mencernanya dan mempertimbangkan dulu. Biar sama-sama enak. Jadi bos cape, jadi karyawan juga cape. Namanya juga kerja. Tapi kalo kerja cerdas, bisa lebih efisien bisa mengurangi cape, karna kerja jadi fun. Work smart, play fun!
Udah dicoba. Hasil kerjanya lebih memuaskan. Bos senang, karyawan senang. Kasih gaji yang sesuai atas kerja cerdas mereka. Toh tanpa karyawan yang smart belum tentu hasil kerjanya akan sememuaskan itu. Bos cape kerja, karyawan juga sama. Sama-sama cape. Harus sama-sama adil. Apalagi bila mendapat karyawan yang baik.
Saya cukup tertekan, makanya karyawan saya jgn sampe tertekan seperti saya. Biar saya yang memulainya. Biarpun bos saya tidak seperti saya. Anak buah saya harus merasa nyaman dengan saya, dengan kerjaannya. Saya anggap mereka partner saya, bukan karyawan. Biarpun jabatan saya ada di atasnya. Tapi kami sama-sama bekerja. Saya puas atas kerja mereka, mereka jujur, bekerja dengan baik. Beda jauh sama karyawan saya sebelumnya, sering tidak jujur, nilep uang, pokoknya engga banget deh. Saat itu setiap hari saya berhadapan dengan karyawan yang seperti itu, juga karna tidak ada sistem, kadang ada karyawan yang memanfaatkan celah ini karena memang tidak ada pencatatan, tidak ada hitam di atas putih. Kalau sudah begini, bos tentu rugi. Kenapa saat itu saya diem. Saya ga punya wewenang. Hanya mengawasi, mendengarkan cerita mereka, keinginan mereka, keluh kesah mereka, kadang mereka memuji bosnya, tapi tidak jarang mereka mencacinya. Bosnya sendiri? Sama aja kalo kata saya mah. Bos juga punya keluh kesah terhadap karyawan, kadang memuji kadang mencaci. Dan waktu terus berjalan. Satu persatu mereka dipersilahkan mencari pekerjaan lain. Sikut menyikut antar karyawan, saya juga mengalaminya. Tapi tidak berhasil. Bila bekerja dengan benar, hasilnya akan benar pula. Saya ga pernah ngadu-ngadu, hal apapun, saya hanya memperhatikan. Nah karena dulu pernah menjadi pendengar suka duka mereka. Cukuplah hal itu berhenti sampai disitu. Saya tidak ingin meneruskan budaya kerja seperti itu lagi. Bos cape, karyawan cape. Ga enak. Saya juga cape tau. Yah karena sekarang mereka ga ada, maka sekarang tuntutan, tanggungjawab ada sama saya. Saya gamau karyawan saya ngalamin hal yang sama kaya saya seperti di awal paragraf. Untuk karyawan saya, semoga saat dia punya karyawan juga dia memperlakukan karyawan dengan baik, dan untuk karyawan dari karyawan dia selanjutnya juga saling memperlakukan dengan baik.
Hal-hal yang menyebabkan saya sakit, tidak akan saya wariskan. Cukup sampai di saya. Generasi selanjutnya harus lebih memanusiakan manusia.
Utopis? Ah ini lagi saya coba. Dan buah dari berbuat baik juga saya diperlakukan dengan baik. Saya senang melihat mereka bisa sehat, bahagia, karena dengan mereka sehat dan bahagia itu membuat mereka lebih produktif. Saya tidak selalu bisa membahagiakan mereka, kadang saya juga membuat mereka sedih, gagal membahagiakan. Tapi di sini saya bicarakan dengan mereka, syukur mereka ada pengertian. Kerjapun tetap lancar. Tanpa harus dipaksa mereka jadi loyal dengan sendirinya.
Hargai kerjaan mereka, kasih apresiasi, kasih hak mereka, karna jauh di dalam lubuk hati saya, saya juga ingin diperlakukan seperti itu. Hm mungkin sekarang bukan saatnya saya yang diperlakukan seperti itu, tapi yang jelas, sekarang saatnya saya memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan. Senang bekerjasama dengan mereka. Saya tidak rugi membayar lebih mahal dari sebelumnya, memberi kebebasan, memberi ruang mereka menggunakan masukkan atau kritiknya tapi kinerjanya jadi ok. Saya menghargai pendapat mereka, senang mereka peduli, merasa ikut andil dalam tempat bekerja sehingga sama-sama maju.
Buah dari mendengarkan.
Mereka tau betapa tidak enaknya jadi saya, dan yang selalu bikin saya terharu adalah sikap mereka tetap menyemangati saya.
Katanya bisnis dan teman itu harus dibedakan. Iya benar, saya memang ngasih kebebasan untuk mereka. Tapi mereka juga tau diri menggunakan kebebasannya. Menyelesaikan kewajiban dulu baru berani menuntut hak. Ga saya omelin atau nasehatin supaya begitu, tapi mereka sadar dengan sendirinya.
Hal buruk, menyakitkan tidak akan saya teruskan. Ini yang selalu saya ingat baik-baik.
Jadi agen perubahan? Eh jadi kaya iklan apa gitu ya?
Berharap banyak untuk yang selanjutnya tidak mengalami hal tidak enak seperti saya.
Ads
Saturday, 10 February 2018
Friday, 9 February 2018
Hujan di Bulan Februari
Selalu ada cerita setiap tahunnya di bulan ini. Bulan yang kadang saya anggap merepotkan karena saya harus memakai jas hujan, payung, sandal jepit, juga saya harus tetap bawa sepatu, jaket, plastik, ekstra tissu, huft serba basah dan lembab.
Biarpun nerepotkan begitu, bila bulan Februari ini sudah berlalu saya merindukannya lagi. Merindukan hujan dan kerepotan-kerepotannya. Termasuk perjalanan yang molor sekian menit bahkan jam, kalau naik angkutan saya suka duduk paling depan, agar tak terlalu terusik oleh penumpang yang naik turun, sembari menghadap jendela memandang dan merasakan suasana sekitar.
Tahun ini, perjalanan saya dihabiskan bersama ojek online. Perjalanan menjadi lebih cepat, saya tak menghabiskan waktu terlalu lama di jalanan. Tapi saya tidak bisa lagi ketiduran dalam perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena saat itu ada kalanya saya menjadi mengantuk karena melamun diperjalanan lalu tertidur dengan nyenyak dibangku bersama penumpang lainnya.
Di bulan ini pula saya mulai mendengarkan Yiruma. Dentingan pianonya menenangkan saya. Walau kadang ketika saya sedang galau, malah membuat saya semakin sendu. Ketika mendengarkan lagi alunan-alunan Yiruma, saya seakan kembali ke masa pertama kali mendengarnya. Saya ingat bagaimana awetnya hujan kala itu, dinginnya kaki saya ketika menyentuh lantai, hangatnya karpet ketika saya kembali duduk, dan air putih yang menemani saya mendengarkan permainan tangan Yiruma. Penuh kenangan, karena di bulan ini juga saya memulai obrolan pertama yang lebih panjang dari biasanya, yang siapa sangka nantinya bertahun-tahun kemudian, orang itu tetap ada dalam hidup saya, dalam suatu ruang di hidup saya tepatnya. Itu kira-kira 4 tahun yang lalu. Padahal mulai berkenalan itu dari kira-kira hampir 7 tahun yang lalu. Mengingatnya membuat saya jadi senyum-senyum sendiri.
Tapi di bulan ini pula di tahun lainnya, ada kesedihan yang terjadi. Saat saya berpisah dengan teman-teman saya. Uh biasanya setiap hari kami bertemu dan tiba-tiba berpisah. Rasanya sedih banget. Keluhan-keluhan, ledekan, canda tawa mereka biasanya menghiasi hari-hari saya. Ah sedih, saya merasa kehilangan, tak rela berpisah dengan mereka, tapi saya kalah oleh keadaan. Kesedihan lainnya, ini cukup membuat saya terpukul, kali ini saya merasa sangat malu, tak ingin berkomunikasi dulu dengan orang ini karena saya mengirim coklat kepada orang yang sudah punya pacar. Ah saya telat, tidak tau kalau orang itu sudah punya pacar. Kalau tau sudah punya pacar ya ga bakal saya kirim, itu akan mengganggu hubungan mereka. Biar sedih juga malu tapi saya pura-pura biasa saja. Hmm, dulu pacarnya orang yang saya kirim coklat itu gimana ya? Saya sendiri juga bakal cemburu kalo pacar saya dikirimi coklat oleh orang yang jelas-jelas menyukainya. Entah saat itu jadi bagaimana keadaannya. Tapi saya beneran gatau kalo dia udah jadian. Kalo tau mah ya bakal deh saya kirim-kiriman. Ga bakal juga saya buka celengan pas-pasan saya. 😂😅 Jadi dulu ga punya uang ya karna belum kerja, ada uang simpenan gitu tapi saya bentuk origami lalu saya pajang di bingkai foto, jadi kaya mahar pernikahan gitu, itupun jumlahnya ga seberapa, tapi cuma itu uang yang saya punya saat itu. Uangnya saya pakai untuk membeli cetakan coklat, bahan untuk membuat coklat, packingnya, ngeprint tulisan dan ongkos kirimnya, ongkos ke tempat ngirim. Mepet banget budgetnya, kurang malahan kayanya. 😅😂 Kenapa sih ya saya ngotot banget ngelakuin itu semua. Ckck.
Jawabannya adalah ketika kamu menyukai seseorang, yang ingin kamu lakukan adalah ingin selalu memberinya, entah apapun itu. Nah mungkin saat itu saya juga begitu.
Februari tahun ini masih cukup panjang, bakal ada cerita apalagi ya? Semoga saja hal yang menyenangkan.
Oia Februari tahun ini tidak ada purnama, jadi namanya black moon. Januari kemarin ada 2 purnama dan Maret nanti ada 2 purnama juga, namanya bluemoon. Kalo salah mohon koreksinya ya. Terimakasih.
Biarpun nerepotkan begitu, bila bulan Februari ini sudah berlalu saya merindukannya lagi. Merindukan hujan dan kerepotan-kerepotannya. Termasuk perjalanan yang molor sekian menit bahkan jam, kalau naik angkutan saya suka duduk paling depan, agar tak terlalu terusik oleh penumpang yang naik turun, sembari menghadap jendela memandang dan merasakan suasana sekitar.
Tahun ini, perjalanan saya dihabiskan bersama ojek online. Perjalanan menjadi lebih cepat, saya tak menghabiskan waktu terlalu lama di jalanan. Tapi saya tidak bisa lagi ketiduran dalam perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena saat itu ada kalanya saya menjadi mengantuk karena melamun diperjalanan lalu tertidur dengan nyenyak dibangku bersama penumpang lainnya.
Di bulan ini pula saya mulai mendengarkan Yiruma. Dentingan pianonya menenangkan saya. Walau kadang ketika saya sedang galau, malah membuat saya semakin sendu. Ketika mendengarkan lagi alunan-alunan Yiruma, saya seakan kembali ke masa pertama kali mendengarnya. Saya ingat bagaimana awetnya hujan kala itu, dinginnya kaki saya ketika menyentuh lantai, hangatnya karpet ketika saya kembali duduk, dan air putih yang menemani saya mendengarkan permainan tangan Yiruma. Penuh kenangan, karena di bulan ini juga saya memulai obrolan pertama yang lebih panjang dari biasanya, yang siapa sangka nantinya bertahun-tahun kemudian, orang itu tetap ada dalam hidup saya, dalam suatu ruang di hidup saya tepatnya. Itu kira-kira 4 tahun yang lalu. Padahal mulai berkenalan itu dari kira-kira hampir 7 tahun yang lalu. Mengingatnya membuat saya jadi senyum-senyum sendiri.
Tapi di bulan ini pula di tahun lainnya, ada kesedihan yang terjadi. Saat saya berpisah dengan teman-teman saya. Uh biasanya setiap hari kami bertemu dan tiba-tiba berpisah. Rasanya sedih banget. Keluhan-keluhan, ledekan, canda tawa mereka biasanya menghiasi hari-hari saya. Ah sedih, saya merasa kehilangan, tak rela berpisah dengan mereka, tapi saya kalah oleh keadaan. Kesedihan lainnya, ini cukup membuat saya terpukul, kali ini saya merasa sangat malu, tak ingin berkomunikasi dulu dengan orang ini karena saya mengirim coklat kepada orang yang sudah punya pacar. Ah saya telat, tidak tau kalau orang itu sudah punya pacar. Kalau tau sudah punya pacar ya ga bakal saya kirim, itu akan mengganggu hubungan mereka. Biar sedih juga malu tapi saya pura-pura biasa saja. Hmm, dulu pacarnya orang yang saya kirim coklat itu gimana ya? Saya sendiri juga bakal cemburu kalo pacar saya dikirimi coklat oleh orang yang jelas-jelas menyukainya. Entah saat itu jadi bagaimana keadaannya. Tapi saya beneran gatau kalo dia udah jadian. Kalo tau mah ya bakal deh saya kirim-kiriman. Ga bakal juga saya buka celengan pas-pasan saya. 😂😅 Jadi dulu ga punya uang ya karna belum kerja, ada uang simpenan gitu tapi saya bentuk origami lalu saya pajang di bingkai foto, jadi kaya mahar pernikahan gitu, itupun jumlahnya ga seberapa, tapi cuma itu uang yang saya punya saat itu. Uangnya saya pakai untuk membeli cetakan coklat, bahan untuk membuat coklat, packingnya, ngeprint tulisan dan ongkos kirimnya, ongkos ke tempat ngirim. Mepet banget budgetnya, kurang malahan kayanya. 😅😂 Kenapa sih ya saya ngotot banget ngelakuin itu semua. Ckck.
Jawabannya adalah ketika kamu menyukai seseorang, yang ingin kamu lakukan adalah ingin selalu memberinya, entah apapun itu. Nah mungkin saat itu saya juga begitu.
Februari tahun ini masih cukup panjang, bakal ada cerita apalagi ya? Semoga saja hal yang menyenangkan.
Oia Februari tahun ini tidak ada purnama, jadi namanya black moon. Januari kemarin ada 2 purnama dan Maret nanti ada 2 purnama juga, namanya bluemoon. Kalo salah mohon koreksinya ya. Terimakasih.
Thursday, 8 February 2018
Suatu Hari Nanti
Aihhh udah mau pertengahan Februari ternyata. Hmm agak galau, ganti tahun, nambah umur, tapi hidup masih gini-gini aja. Kapan ya saya punya rumah sendiri. Kalo punya rumah mau rumahnya itu tipe bangunan rumah jaman dulu gitu, gaya jengki gitu, atau kaya rumahnya luna di serial Heart the series itu. Suka deh tipe-tipe rumah begitu. Tapi nanti kalo punya rumah model gitu mau ditingkat rumahnya buat cuci jemur biar makin cepet keringnya karena di atas jadi dapet angin yang lebih gede supaya cepet kering. Ga mau kalo sampe harus jemur pakaian atau apapun itu di depan rumah. Di belakang rumah juga kalo sering dilewatin orang juga gamau. Jadi solusinya di lantai 2 deh jemurnya. Terus nanti di dalem rumah tuh gamau banyak barang. Cape boo beres-beresnya. Jadi perabotnya mau seperlunya aja, biar dikit yang penting keurus.
Nonton tv pake karpet juga gapapa, ga pake sofa gapapa. Nanti kalo suami pulang, hidangin minum sama cemilan atau buah-buahan di meja yang ga terlalu tinggi sambil makan di karpet sambil selonjoran, sambil dengerin suami cerita gimana harinya seharian ini. Terus nonton tv bareng-bareng sambil ikutan bahas apa yang ada di tv. Ealah jadi jauh banget khayalannya. 😃😂
Selain rumah, saya kayanya harus punya simpenan. Macet deposito gito atau emas batangan. Ya sih emas perhiasan juga katanya tabungan, selaras sama slogannya toko mas : berhias sambil menabung. Tapi eh tapi ternyata potongannya lumayan lho kalo emas perhiasan. Lagian saya juga ga suka pake perhiasan jadi ga kepake. Pengen beli mas batangan aja tapi eh tapi kudu dirawat juga itu emas batangan karena katanya warna emas itu mempengaruhi loh saat mau dijual lagi nanti. Kalo deposito, ini lagi ngumpulin duitnya supaya bisa didepositoin apalagi ada tuh bank yang jangka waktu depositonya sebulan aja. Saya mau nyimpen jumlah lumayan supaya bunganya lumayan juga.
Motor? Mobil? Ga minat. Jet pribadi? Ga minat juga. Saya minatnya naik transportasi publik. Saya menanti banget lho trotoar di sepanjang jalan menuju halte atau manapun, saya menanti trotoar untuk pejalan kaki bukan untuk jualan, parkir kendaraan dll.
Nonton tv pake karpet juga gapapa, ga pake sofa gapapa. Nanti kalo suami pulang, hidangin minum sama cemilan atau buah-buahan di meja yang ga terlalu tinggi sambil makan di karpet sambil selonjoran, sambil dengerin suami cerita gimana harinya seharian ini. Terus nonton tv bareng-bareng sambil ikutan bahas apa yang ada di tv. Ealah jadi jauh banget khayalannya. 😃😂
Selain rumah, saya kayanya harus punya simpenan. Macet deposito gito atau emas batangan. Ya sih emas perhiasan juga katanya tabungan, selaras sama slogannya toko mas : berhias sambil menabung. Tapi eh tapi ternyata potongannya lumayan lho kalo emas perhiasan. Lagian saya juga ga suka pake perhiasan jadi ga kepake. Pengen beli mas batangan aja tapi eh tapi kudu dirawat juga itu emas batangan karena katanya warna emas itu mempengaruhi loh saat mau dijual lagi nanti. Kalo deposito, ini lagi ngumpulin duitnya supaya bisa didepositoin apalagi ada tuh bank yang jangka waktu depositonya sebulan aja. Saya mau nyimpen jumlah lumayan supaya bunganya lumayan juga.
Motor? Mobil? Ga minat. Jet pribadi? Ga minat juga. Saya minatnya naik transportasi publik. Saya menanti banget lho trotoar di sepanjang jalan menuju halte atau manapun, saya menanti trotoar untuk pejalan kaki bukan untuk jualan, parkir kendaraan dll.
Thursday, 1 February 2018
Ga Akan Mati karena Ga Makan Malam
Setelah dipikirkan setiap ingat selama sekian lama, saya menyimpulkan beberapa penyebab naiknya berat badan saya.
1. Makan.
Saya makan setiap waktu. Uhh. Laper mata doang padahal. Belom lagi kalo temen ga abis makannya, sayang kan kalo ga abis. Kalo ngemil juga ga abis, saya yang abiskan. Jadinya makan terussss. Malem-malem juga saya jadi makan, padahal siangnya udah makan mulu. Dulu mah jarang bgt makan malem di atas jam 8. Nah kalo sekarang rajin banget makan di atas jam 9 malem.
2. Jarang jalan kaki.
Dulu, tiap malem itu saya jalan kaki sampe ke rumah. Sekarang naik ojek online diantar sampe depan rumah. Kan badan saya jadi bakar kalorinya dikit.
3. Males olahraga.
Dulu, entah berapa hari sekali saya jalan pagi, kadang lari sih. Sekarang kalo jalan pagi itu saingan sama motor mobil, heran deh sepagi itu jalanan udah rame aja. Ketambahan karna pulang selalu malam saya selalu ngerasa kurang tidurnya kalo harus bangun pagi kaya dulu. Olahraga di dalem ruangan juga ruangannya ga memungkinkan. Huft.
Itu! Itu dia penyebab berat badan semakin naik. Saya harus mulai tega ngeliat makanan yang ga diabisin, berhenti ngabisin cemilan orang. Atur waktu supaya bisa cukup tidur dan olahraga.
Kesehatan kan investasi, jadi harus dari waktu masih muda diinvestasikannya. Huft... rasa malas harus dilawan.
Siapa tau tertarik, cusss dibaca :
● Krim Malam yang Melembutkan Wajah
● Gak Jerawatan walau Gak Cuci Muka, Gimana Caranya?
● Cara Sederhana Mengeringkan Buku yang Basah
● Supaya Gak Banyak Semut di Rumah
1. Makan.
Saya makan setiap waktu. Uhh. Laper mata doang padahal. Belom lagi kalo temen ga abis makannya, sayang kan kalo ga abis. Kalo ngemil juga ga abis, saya yang abiskan. Jadinya makan terussss. Malem-malem juga saya jadi makan, padahal siangnya udah makan mulu. Dulu mah jarang bgt makan malem di atas jam 8. Nah kalo sekarang rajin banget makan di atas jam 9 malem.
2. Jarang jalan kaki.
Dulu, tiap malem itu saya jalan kaki sampe ke rumah. Sekarang naik ojek online diantar sampe depan rumah. Kan badan saya jadi bakar kalorinya dikit.
3. Males olahraga.
Dulu, entah berapa hari sekali saya jalan pagi, kadang lari sih. Sekarang kalo jalan pagi itu saingan sama motor mobil, heran deh sepagi itu jalanan udah rame aja. Ketambahan karna pulang selalu malam saya selalu ngerasa kurang tidurnya kalo harus bangun pagi kaya dulu. Olahraga di dalem ruangan juga ruangannya ga memungkinkan. Huft.
Itu! Itu dia penyebab berat badan semakin naik. Saya harus mulai tega ngeliat makanan yang ga diabisin, berhenti ngabisin cemilan orang. Atur waktu supaya bisa cukup tidur dan olahraga.
Kesehatan kan investasi, jadi harus dari waktu masih muda diinvestasikannya. Huft... rasa malas harus dilawan.
Siapa tau tertarik, cusss dibaca :
● Krim Malam yang Melembutkan Wajah
● Gak Jerawatan walau Gak Cuci Muka, Gimana Caranya?
● Cara Sederhana Mengeringkan Buku yang Basah
● Supaya Gak Banyak Semut di Rumah
Subscribe to:
Posts (Atom)