“Tapi yah, ini kan udah semester 5. Riki sekolah juga tinggal 3 bulanan lagi…”
“Kalo kamu ga mau kamu bisa kost, gimana?”
“Kost?” aku tak habis pikir dengan pemikiran ayah, dia tega meninggalkanku di kota yang baru ku tinggali 6 bulan saja. Bukan aku tak mandiri, bukan aku tak berani, aku hanya tak ingin berpisah dengan ayahku. Walaupun kami tinggal bersama tapi ayah jarang ada di rumah, kalau aku berpisah dengan dia, aku akan semakin jarang bertemu. Terserah kalian mau bilang aku anak manja tapi aku memang menyayanginya.
Akhirnya aku mengikuti kepindahan ayahku ke Jakarta. Setiap tahun ayah biasa dipindahtugaskan dari satu kota ke kota lain, kadang bukan antar kota tapi bisa antar pulau. Sumatra, Kalimantan, Jawa aku sudah biasa. Kali ini memang hanya pindah ke Jakarta, tempat tinggalku sewaktu SMP kelas tujuh sebelum aku pindah ke kota tertua di negriku, Palembang. Dan kali ini aku akan kembali ke Jakarta.
Jakarta bertambah macet, udaranya makin kotor. Apa aku akan betah. Harus. Mau tidak mau harus betah.
“Hari senin besok kamu sekolah di SMA 333…”
“Hah? Dimana yah? Ga salah?”
“Kalo kamu ga mau kamu cari sendiri aja, lagian emang kamu maunya dimana? Ayah sibuk …”
Jarak sekolah itu dengan rumahku lumayan jauh, bukan, bukan lumayan tapi memang jauh. Walau ayah memberiku izin menggunakan mobil untuk ke sekolah tapi aku tak mau menggunakannya. Bukannya apa tapi aku tak mau dibilang anak sombong atau sok kaya, ya walaupun aku memang kaya.
Hari senin aku berangkat lebih awal, sekitar jam 5 pagi. Jakarta biasanya akan sangat macet di hari senin. Tiba di sekolah baruku jam 6 pagi. Sekolahku yang ini ukuran sangat kecil menurutku, hari jumat kemarin aku sudah ke sini, berkeliling melihat isi sekolah dan menyerahkan beberapa dokumen. Walau ku lihat sekolahku banyak keterbatasan sarana dan prasarananya tapi di sini lumayan bersih. Di sini aku akan menghabiskan waktu terakhirku di masa putih abu-abu.
Aku mengikuti upacara, agak canggung sih karena belum ada orang yang ku kenal. Tasku masih diruang guru dan aku belum diperkenankan masuk kelas. Bel jam pertama dimulai, wali kelasku Bu Ami mengantarku ke kelas. Kelasku berada di pojok lorong dekat kamar mandi perempuan. Ukuran kelasku sangat kecil, saat Jumat kemarin aku berkeliling, ku pikir ruangan ini bukan ruang kelas ternyata ini kelasku. Aku kaget saat memasuki kelasku, murid di kelasku jauh lebih sedikit dibanding dengan kelas di sekolahku sewaktu aku di Kalimantan, padahal di sana aku tinggal di pedesaan, tak disangka aku bisa menemukan kelas dengan jumlah murid sesedikit ini.
Brakkk..brak..braaak… Bu Ami menggebrak meja karena kelas terlalu berisik.
“Anak – anak kenalkan ini Riki. Dia pindahan dari solo… Riki, kamu bisa duduk di sana, depan meja guru.”
Aku melirik sebentar ke posisi tempat dudukku, bangku paling depan tapi tak ada yang mengisinya. Aneh, biasanya di pojok belakang yang tak diisi. Aku berjalan dan duduk ditempat yang dipersilahkan wali kelasku.
“Kalo kalian mau kenalan nanti aja pas istirahat, sekarang belajar dulu. Jangan berisik, ibu mau panggil guru MTK kalian.” Bu Ami pergi meninggalkan kelas sementara suasana makin ramai.
Ini lah anak Jakarta, berbeda dengan anak daerah. Karena ukuran kelas yang kecil dan suara murid-muridnya yang keras, aku bisa mendengar percakapan mereka, salah satunya percakapan yang berasal dari barisan di seberang sana, barisan yang banyak dihuni para siswi. Bukan aku terlalu percaya diri, tapi mereka memang membicarakanku, tanpa sadar aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku memulai pembicaraan dengan siswa yang duduk di belakangku, menanyakan tentang buku pelajaran di sini. Di sini buku pelajaran dipinjamkan oleh perpustakaan. Oke, berarti istirahat nanti aku akan ke perpustakaan di lantai atas.
Pelajaran MTK di sini seperti ini ya? Mengagetkanku, karena aku duduk di barisan paling depan. Beruntung, guru MTK memaklumiku yang murid baru ini.
Bel istirahat tiba, aku bergegas ke perpustakaan. Tapi saat menaiki tangga aku, aku baru sadar kalau aku tidak tahu di mana letak perpus. Saat hari Jumat kemarin aku tak sempat keliling ke lantai atas. Sebenarnya aku malas bertanya, tapi jam istirahat pertama di sini terlalu singkat, aku harus cepat. Aku bertanya kepada salah seorang siswi.
“Perpus dimana ya?”
Bukannya menjawab. mereka malah cekikikan, walau akhirnya mereka memberitahuku juga.
Perpusnya kecil banget, bukunya sedikit. Untung aku masih kebagian buku.
Di kelasku beberapa siswa mengajakku berkenalan, tapi belum ada satu siswi pun di kelas ini yang mengajakku berkenalan, eh aku ralat, ada, tapi aku tak tahu namanya, ia duduk di barisan sampingku. Itu pun karena dia sekretaris yang memang tugasnya mengabsen siswa.
Walau belum sebulan tapi aku sudah bisa mengenali watak anak-anak di kelasku. Adanya yang pendiam, alim, cerewet, sok akrab, watak mereka begitu mudah ku tebak.
“Riki... ikutan futsal yuk !” ajak salah seorang temanku. Di sekolahku ini kalau ada jam kosong dan lapangan sedang kosong anak-anak akan langsung turun ke lapangan untuk bermain.
Walau awalnya canggung, tapi lama-kelamaan aku bisa menyesuaikan diri. Bukan hal sulit memang untuk menyesuaikan diri, aku sudah terlalu biasa.
20/07/2012 17:30
Ads
Showing posts with label FIKSI. Show all posts
Showing posts with label FIKSI. Show all posts
Friday, 9 May 2014
Thursday, 8 May 2014
KANCIL
Dulu ini tugas Bahasa Indonesia, gue gatau deh kenapa gue nulis ini.
Si Kancil
Tokoh :
- Kancil : cerdas namun licik
- Petani : suka bercocok tanam, pemarah
- Monyet : mudah ditipu, polos
- Orang-orangan sawah : setia kepada petani, jujur
- Kambing : tidak mudah tertipu
Suatu hari di sebuah ladang yang subur, hidup seorang petani yang sangat suka dan menyayangi semua tanaman yang ia tanam. Setiap hari ia selalu merawat dan menyirami semua tanamannya. Tidak lupa ia memupuk tanamannya setiap minggu agar semua tumbuhan, baik sayuran atau buah-buahan dapat ternutrisi dan tumbuh dengan baik.
Petani : “ Sayuran dan buah-buahanku lekaslah kalian tumbuh subur. Jangan mengecewakanku ya.” (sambil menyiram tanaman)
Setiap hari petani selalu memeriksa semua sayuran dan buah-buahan yang ada diladang, jika ada yang tidak beres maka ia akan cepat-cepat membereskannya.
Sayuran dan buah-buahan yang ditanam petani pun tumbuh subur, petani hanya tinggal menunggu saat panen tiba.
Namun, dibalik kesenangan petani… tersimpan kesengsaraan di luar ladang. Ternyata di luar ladang tidak banyak sayuran dan buah-buahan bisa tumbuh. Ini dikarenakan limbah dari pupuk yang digunakan oleh petani. Hewan – hewan di luar ladang pun banyak yang kelaparan, salah satunya Kancil dan teman-temannya.
Di balik semak-semak kancil dan teman-temannya mengintip ke arah ladang petani yang ditumbuhi sayuran dan buah-buahan dengan subur. Semua yang ada di ladang terlihat nikmat sekali. Apalagi kancil dan teman-temannya memang sudah kelaparan, sudah dua hari mereka tidak makan. Dengan melihat semua sayuran dan buah-buahan yang ada diladang, kancil pun memiliki ide bagus.
Kancil : “Lihat itu, ada banyak makanan di sana. Wow menggoda sekali. Pasti rasanya sangat enak.” (sambil menjilat-jilat bibirnya) “Aku harus mendapatkannya !”
Kambing : “Bagaimana caranya ncil?”
Kancil : “Itu soal mudah, hanya tinggal mengambil. Kita ngambilnya pas malem. Kan si Petani udah tidur tuh terus di ladang engga ada yang jaga.”
Monyet : “Tapi kan ada yang jaga. (sambil menunjuk) Tuh si Orang-orangan sawah.”
Kancil : “Tenang aja kali, si Orang-orangan sawah kan ga bisa ngejar kita. Kalo dia berani macem-macem tinggal kita sambit aja.”
Si kancil pun mulai mempersiapkan semuanya, dari mulai cara agar ia bisa masuk ke ladang dengan aman dan peralatan apa saja yang akan dia bawa.
Si kancil pun mendapatkan ide bagus. Segera saja ia menyiapkan peralatannya juga.
Dengan membawa peralatan yang telah kancil siapkan, ia pun masuk mengendap-ngendap menuju ladang petani. Dari balik pohon ia melihat kalau orang-orangan sawah sudah terlihat mengantuk. Perlahan tapi pasti kancil pun berhasil masuk ke dalam ladang. Ia bisa memasuki ladang dengan mudah karena si orang – orangan sawah sudah tertidur. Kancil pun mengambil banyak sayuran dan buah-buahan dari ladang petani.
Pagi harinya kancil memberikan makanan yang ia dapat dari ladang petani kepada teman-temannya.
Kancil : “liat nih, aku dapat banyak makanan.”(sambil memamerkan kantong yang penuh makanan)
Kambing : “ kok bisa?”
Kancil : “Bisa dong, gue gitu loh, emangnya elu!” (kancil meremehkan si kambing)
Kancil pun membagi makanan kepada si kambing, lalu datanglah si Monyet.
Monyet : “wah makan enak nih ! Eh kok gue ga dibagi sih?”
Kancil : “pengen banget dibagi ya? Hahaha”(kancil tertawa)
Monyet : (dengan muka kesal) “gila lu, gitu banget sama gue.”
Kanci l : “yaelah gitu aja ngambek, nih gue bagi.” (sambil menyodorkan kantong berisi makanan)
Sementara di ladang, semuanya terlihat kacau. Banyak sayuran yang terinjak-injak dan buah-buahan yang hilang dari pohonnya.
Orang-orangan sawah : (kaget saat membuka matanya) “ada apa ini? Oh tidak ! sayuranku apa yang terjadi? (lalu melihat ke arah pohon) buah-buahannya juga tidak ada. (semakin panik) Matilah aku! (sambil menepuk jidat)
Petani berjalan tenang dan santai menuju ke ladang. Namun sesampainya di ladang, ia kaget bukan main. Keadaan ladangnya sungguh kacau.
Petani : (dengan wajah kaget) “Ya ampun…ya ampun (sambil menutup kedua mata dengan telapak tangannya untuk memastikan kalau ia salah lihat. Kemudian ia kembali membuka matanya namun apa yang dilihatnya tetap sama, kacau.)
Petani tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kemudian ia menuduh orang-orangan sawah yang telah melakukannya.
Petani : (menunjuk orang-orangan sawah) “heh kamu, pasti ini perbuatanmu ya? Tega benar engkau ! tak habis pikir aku, baru saja ku berikan kau baju baru tapi inikah BALASANMUUU ! (mulai berteriak)
Orang-orangan sawah : (ketakutan) “a…a…am..mpun petani. Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak mungkin melakukan ini.”
Petani : “ALASAN SAJA KAU INI !(membentak orang-orangan sawah)
Karena tak tahan melihat keadaan yang kacau ini, petani pun bergegas meninggal ladang untuk mengambil peralatan untuk memperbaiki ladangnya yang rusak.
Sementara si orang-orangan sawah merasa bersalah sebab ia ceroboh. Kalau saja ia tidak tidur ia pasti bisa mengetahui pelaku perusakan ini. Orang- orangan sawah pun bertekad tidak akan tidur malam ini. Ia penasaran.
Ditempatnya, kancil kembali mempersiapkan peralatan untuk nanti malam. Semuanya telah siap, ia siap menjalankan aksinya.
Kancil : “On the way to ladang, semoga aja si orang-orangan sawah ketiduran lagi.(sambil tertawa)
Diluar dugaan, ternyata si orang-orangan sawah malam ini begadang. Kancil yang sudah tertangkap basah tidak mungkin menghindar lagi.
Orang-orangan sawah : (menunjuk kancil) “nah ketauan ya, elu kan yang kemaren nyolong? Ngaku lu!”
Kancil : “lu pikir gue takut?!”
Orang-orangan sawah : “gue bilangin petani ya lu!”
Kancil : “bilangin aja sono, gue ga takut !” (kancil melanjutkan aksinya mencuri sayur dan buah)
Di pagi harinya, saat petani baru memasuki ladang, si Orang-orangan sawah sudah memanggil manggil namanya. Orang-orangan sawah ingin memberitahu petani tentang kejadian yang semalam.
Orang-orangan sawah : “PETANIIII…HEY PETANI…”
Petani : “ada apa manggil-manggil? Mau udah mau ngaku sekarang?”
Orang-orangan sawah : “ada yang ingin ku beritahukan kepadamu”
Orang-orangan sawah pun menceritakan kejadian semalam.
Petani : (sambil mengangguk-anggukan kepala) “rupanya begitu ya…”
Petani pun mulai mencari ide, ia pun menemukan ide bagus.
Segera saja ia menyiapkan perangkat.
Dan ketika malam tiba, Orang-orangan sawah pura-pura tertidur agar si kancil tidak curiga dan tetap tidak waspada saat memasuki ladang.
Orang-orangan sawah : (dalam hati) kena kau !
Kancil : (kaget, tangannya tiba-tiba terikat tali) apa ini?? Tanganku…tanganku. Tolong…tolong…!!
Kancil memutar otak memikirkan cara untuk bisa melepaskan perangkap. Namun usahanya sia-sia. Sementara Orang-orangan sawah tertawa dalam hati, ia tidak sabar menunggu hari esok.
Esok paginya, petani datang dan menemukan kancil sedang tertidur dengan tali terikat ditangannya.
Orang-orangan sawah : (berteriak) “PETANIII…PETANIII… pelakunya sudah tertangkap.”
Petani : “benarkah? (memandang curiga kearah Orang-orangan sawah, petani masih menuduh Orang-orangan sawah).
Orang-orangan sawah : “bukan aku pelakunya, lihat itu (menunjuk kancil), si kancil itulah pelakunya.”
Petani : “kancil? Bagaimana bisa kancil masuk ke ladangku? Apa engkau tidak menjaga ladangku? (petani tetap marah).
Petani mendatangi kancil yang sedang tertidur dan langsung membentaknya.
Petani : “cepat bangun!!”
Kancil : (masih celingak-celinguk)
Petani : “bangun atau ku bunuh sekarang juga!”
Kancil : (sudah sadar) “aa..aampun petani, lepaskan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Petani : “kau pikir aku bodoh? Aku tak akan melepasmu. (melihat-lihat tubuh kancil) badanmu lumayan berisi, pasti enak untuk dijadikan makan malamku.”
Kancil : “jangan petani.. aku tidak siap. (memikirkan ide) badanku masih terlalu kurus jika engkau memang mau mengambil dagingku. Beri aku waktu seminggu untuk mengemukan badanku.”
petani : “aku tidak akan tertipu olehmu, bagaimana bisa badanmu akan menjadi gemuk dalam seminggu, kau pasti bohong, yang ada dalam seminggu ke depan engkau akan bertambah kurus.”
kancil : “tidak akan petani, tentu jika kau memberiku makanan bergizi.”
Petani : “seminggu memberimu makanan gratis enak saja!”
Kanci l : “kalau begitu, beri aku waktu 5 hari, bagaimana?”
Petani : “ tidak bisa, sore ini juga akan ku potong.”
Kancil : “ku mohon petani, beri aku waktu lebih lama.”
Petani : (berpikir sejenak) “baiklah dua hari. Dimulai dari hari ini.”
Petani kemudian langsung pergi meninggalkan ladang, sebelum pergi petani memberikan kancil makanan dan meminta maaf kepada Orang-orangan sawah. Walau masih sakit hati tapi orang-orangan sawah memaafkan petani.
Ditempat lain, kancil belum memakan makanannya, ia memikirkan cara untuk bisa lepas dari perangkap si petani. Lalu tiba – tiba lewatlah si kambing.
Kancil :”Mbing…Kambing … sini deh?”
Kambing : (sambil menengok ke kanan dan ke kiri) “suara apa itu? jangan-jangan hantu . iiii serem. Kabur ah!”
Kancil : “eh mbing tunggu, ini gue kancil !”
Kambing : (menengok ke arah kancil) “rupanya elu ncil, gue kira suara siapa, bikin takut gue aja. Eh tapi lu ngapain disini?”
Kancil : “gini mbing...gue dapet tawaran dari si petani buat jagain ini ladang, katanya buat gantiin Orang-orangan sawah. Jadi sekarang gue lagi training dulu mbing. Nah si petani ternyata masih kekurangan penjaga nih mbing, lu mau ga jadi penjaga juga? Enak loh mbing disini, banyak makanan, nih liat makanan gue aja banyak. Tapi gue ga sanggup makan udah kenyang. Gimana mbing mau ga?”
Kambing : “gue curiga nih... masa ia ditraining sambil diiket tangannya. Bohong ya lu? Ah udahlah gue ada perlu, bye bye kancil!” (langsung berlari menjauhi si kancil)
Kancil : “gagal deh gue”
Hari pertama sudah berlalu, sekarang sudah memasuki hari kedua. Kancil semakin cemas, ia takut juga kalau sampai ia dipotong. Namun tiba-tiba muncullah secercah harapan. Si monyet sedang jalan-jalan dan dia melewati si kancil.
Kancil : “sssttt... sssttt... monyet... monyet !”
Monyet : (mencari sumber suara yang memanggilnya) “suara apa itu? Jangan-jangan...”
Kancil : “disini...disini...ini gue kancil”
Monyet : (menghampiri kancil) “ elu toh, gue kira siapa? Lu lagi ngapain disini?”
Kancil : “gue lagi di training nih sama petani.”
Monyet : “kok bisa ?”
Kancil : “bisa dong. Gue gitu loh. Eh gue kan lagi ditraining buat gantiin si orang-orangan sawah nih, nah si petani lagi kekurangan penjaga. Lu mau ga? Di sini enak loh, tiap hari dapet makan enak, gratis !”
Monyet : “hmmm.. boleh tuh.”
Kancil : “kalo gitu sini, sekarang masukin dulu tangan lu ke sini, gue mau ijin ke toilet sebentar, lu disini dulu ya.”
Monyet : “oke boss.”
Kesempatan ini pun tak disia-siakan si kancil untuk kabur. Dengan cepat ia melarikan diri, meninggalkan si monyet seorang diri disana.
Seminggu setelah peristiwa itu pun berlalu... kancil iseng berjalan-jalan di sekitar ladang. Ia kaget bukan kepalang saat menemukan monyet masih tetap hidup, bahkan badan si monyet bertambah gemuk sekarang, mukanya juga bahagia. Ada apa sebenarnya?
Kancil : (memandang si monyet) “hey kawan... apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.”
Monyet : “eh elu ncil, kabar gue baik. Emang lu ga ngeliat nih muka gue bahagia banget. Kabar lu gimana? Makin kurus aja sekarang.”
Kancil : “kabar gue biasa aja.”
Monyet : “kemarenan lu tega banget ya sama gue, untung gue ga jadi dibunuh .”
Kancil : (merasa tidak enak) “maaf in gue nyet, abisan gue juga takut.”
Monyet : “untung aja gue ga jadi dibunuh, petani suka sama tingkah gue katanya sayang kalo gue dibunuh jadi gue dipelihara deh sama petani. Liat nih badan gue , sehat kan? Makasih banget ya ncil, berkat lu hidup gue jadi bahagia.”
Kancil : (berpikir sejenak, heran) “loh kok bisa ya?”
Monyet : “gue juga awalnya heran, gue tanya kenapa si petani akhirnya ga jadi ngebunuh gue, terus dia bilang karena gue rajin senyum ncil”
Kancil : (kembali berpikir) “masa sih?”
Monyet : “beneran ncil, elu waktu disini sering cemberut mulu kan? Makanya si petani bawaannya pengen buru motong elu ncil. Kalo gue jadi elu, gue nyesel dah, nyia-nyian kesempatan bagus. Bayangin aja ncil, disini asal lu rajin senyum, makanan udah disediain, ga perlu susah-susah nyari ke sana ke mari.”
Kancil : (mulai tertarik) “wah enak tuh kayaknya?”
Monyet : “emang beneran enak ncil, tapi sayang petani ga lagi ngebutuhin tambahan.”
Kancil : (menyesal) “sayang banget.”
Monyet : (dengan muka datar) “salah sendiri.”
Kancil : “eh nyet, elu ga bosen apa tinggal disini mulu?”
Monyet : (menggeleng) “sama sekali engga, disini kan enak.”
Kancil : (merayu) “lu ga kangen sama temen-temen lu, kasian tuh si kambing ga punya temen.”
Monyet : “kangen sih, udah lama gue ga ketemu, tapi...kalo sampe ketauan gue ga ada disini nanti gue ga boleh lagi kesini.” (Sedih)
Kancil : “tenang aja, gue bisa gantiin lu kok.”
Monyet : “ah engga ah, ntar malah elu lagi yang jadi hewan piaraan.”
Kancil : “nah makanya lu perginya jangan lama-lama.”
Monyet : (mikir) “hmmm...”
Kancil : “duh lama nih , udah sini talinya, biar gue yang sementara gantiin.”
Monyet : “bener nih ncil?” (memberikan talinya kepada kancil)
Lepaslah tali perangkap itu dari si monyet. Setelah memastikan kancil benar-benar terikat dengan tali. Si monyet pun segera memanggil petani.
Monyet : “PETANII..PETANI... kancil sudah kembali. Aku bebas. Horeee.”
Petani : “mana si kancil ?”
Monyet : (menunjuk ke arah kancil) “itu. Tertipu kau kancil. Hahha.”
Kancil : (bingung) “ada apa ini?”
Petani : “kena kau kancil ! aku sudah lama menunggumu!”
Kancil : (tetap tersenyum, mengikuti saran si monyet)
Petani : (mengeluarkan golok) “habislah engkau sekarang”
Kancil : “loh..loh?”
Petani : (mengarahkan golok ke kancil)
Si kancil pun tewas.
Amanat dari cerita ini adalah janganlah kita menanam sifat buruk karena akan membuahkan yang buruk juga.
Sekian Dan Terima Kasih
Seperti ini?
Kamu
pernah kebayang ga gimana rasanya hidup di ibukota?
Siang
malam selalu terang, siang malam selalu ramai, siang malam selalu sama.
Warna-warninya
lampu kota, tingginya gedung pencakar langit.
Ibukota
yang kudengar selalu indah,
Aku
menyukai keindahan, dan ibukota adalah salah satunya, menurutku.
Aku,
si perantau dari desa terpencil nekat datang ke ibukota. Aku juga mau menikmati
indahnya ibukota.
Dengan
bermodalkan beberapa lembar uang dan baju yang kupikir masih layak untuk
dipakai aku mencoba peruntunganku di ibukota.
Aku
berangkat di sore hari agar paginya aku sudah bisa melihat ibukota.
Disana,
di ibukota, aku harus mandiri, tidak ada seorangpun yang aku kenal.
Dalam
perjalanan menuju ibukota aku kembali melihat secarik kertas Koran berisi
alamat rumah, tempat tinggalku nantinya.
Tuhan,
lindungi aku sampai di ibukota.
Perjalanan
yang melelahkan berakhir juga, aku sudah sampai di ibukota.
Ini
hari Senin, hari yang lumayan sibuk di desaku, ternyata disini juga.
Disini
aku masih belum melihat gedung-gedung pencakar langit yang tempo hari kulihat
di tv tetanggaku. Disini kumuh, panas, terlalu ramai dan membuatku tak nyaman.
Aku
menepi ke sebuah warung kecil, perutku lapar tapi yang kulihat disini hanya ada
mie instan, makanan yang dianggap istimewa di kampungku. Pagi ini aku sarapan
mie instan, sama seperti orang ibukota. Setelah selesai makan dan membayar, tak
lupa aku tanyakan alamat calon tempat tinggalku kepada pemilik warung.
Lokasinya jauh dari sini, katanya kalau dari sini aku harus naik ojek menuju
terminal. Aku menuruti perkataan pemilik warung itu. Sampai di terminal itu aku
menaiki sebuah bus besar, sama besarnya seperti bus yang membawaku ke ibukota.
Kata pemilik warung tadi aku masih harus menaiki bus yang seperti ini dua kali
lagi. Perjalanan yang cukup jauh bukan.
Sudah
dua terminal ku lewati dan ini bus terakhir yang akan membawaku ke calon tempat
tinggalku.
Selama
perjalanan menuju ke calon tempat tinggalku, aku disuguhi pemandangan ibukota,
dari yang mewah sampai yang kumuh. Inikah yang sebenarnya? Seperti inikah
ibukota? yang ku tahu ibukota itu indah apalagi dengan gedung pencakar
langitnya.
Turun
dari bus yang ku naiki aku kembali menanyakan alamat yang ku cari, ibukota
memang selalu ramai, selalu ada orang disetiap tempat. Katanya orang yang
barusan ku Tanya, aku harus menaiki satu angkot lagi agar bisa sampai di tempat
tujuan.
Aku
menurutinya, entah mengapa aku jadi penurut.
Aku
sampai ditujuan, apa yang kulihat benar-benar tak terduga. Bukan sebuah rumah
seperti yang ada di secarik kertas yang ku bawa, ini berbeda, sangat berbeda.
Rumah yang tampak didepanku adalah sebuah rumah tua yang sepertinya tak
terurus. Bahkan aku tak yakin apakah rumah ini berpenghuni atau tidak.nAku coba
cocokan lagi antara alamat yang ku bawa dengan alamat rumah ini. Sama.
Aku
berjalan mendekati rumah ini, membuka pagar besi yang sudah berkarat, menapaki
jalan berbatu yang tentu saja bertaburan daun-daun kering. Aku sampai di depan
pintu, kulihat di meja teras ada sebuah cangkir bekas kopi dan juga Koran hari
ini, syukurlah, setidaknya rumah ini memang berpenghuni.
Pintu
ku ketuk, sekali, dua kali, tiga kali, tak ada balasan.
Aku
menunggu sebelum akhirnya ku putuskan untuk mengetuk kembali.
Satu
kali, dua kali kuketuk dan aku mendengar suara seorang wanita, “siapaaaa…”
terdengar cempreng ditelingaku.
Pintu
terbuka, muncul seorang wanita paruh baya dengan masih mengenakan pakaian
tidur. Oh jam berapa ini? Mengapa orang ibukota masih mengenakan piyama pukul
segini.
“siapa
ya?” suara wanita itu membuyarkan pikiranku tadi.
“emm,
ini aku, yang waktu itu mengirim surat untuk tinggal disini…” kataku gugup.
“ooooohh…
kamu ya! iya..iya… saya ingat, mari masuk.”
Dia
mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamunya.
“sebentar,
aku ambilkan minum, kamu mau minum apa? Ada teh, kopi, jus…”
“air
putih saja, bu.”
Dia
pergi sebentar dan membawakanku air putih beserta cemilan, sepertinya keripik
singkong. Lalu setelah aku minum, dia mulai menanyaiku dengan berbagai
pertanyaan.
Ibu
rumah yang ramah, menurutku.
Setelah
selesai berbasa-basi dia membawaku menuju ke sebuah kamar, letaknya di pojok,
ada dua pintu yang sejajar denganku.
18/12/2013 13:37
Subscribe to:
Posts (Atom)