Pergi ke dokter dengan keluhan, dikasih solusi untuk mandi. Pergi lagi ke dokter dengan keluhan di wajah, dikasih solusi untuk membuka kaca helm saat dalam perjalanan dan memilih masker yang sirkulasinya bagus. Katanya saya alergi panas.
Beberapa tahun sebelumnya saya pergi ke dokter dengan keluhan yang sama seperti sekarang dan didiagnosa dokter saya alergi dingin.
Setelah saya renungkan, kenapa bisa saya yang tadinya alergi dingin jadi alergi panas. Saya ingat-ingat lagi beberapa tahun yang lalu di siang hari yang terik pun keluhan saya muncul. "Oh mungkin saya alergi debu juga", itu yang ku pikirkan. Tapi selanjutnya dalam keadaan yang tidak panas dan berdebu, keluhan saya kembali muncul. Saya heran. Tapi tidak ambil pusing. Hanya alergi pikir saya.
Kembali ke masa sekarang. Saya tidak lagi kembali ke dokter itu. Saya pergi ke psikiater. Setelah menceritakan apa saja yang saya alami tentang hidup yang saya jalani, saya ga cerita saya alergi ini itu. Dokter bilang saya stres, dan bertanya kepada saya apakah saya pernah ngalamin beberapa gejala yang dia sebut salah satunya adalah yang saya alami. Dokter bertanya lagi kapan saja gejala itu muncul. Saya ingat-ingat lagi, beberapa tahun yang lalu gejalanya muncul saat saya dipersiapkan untuk lomba mewakili angkatan saya di sekolah dan sedang persiapan ujian sekolah juga. Yang walaupun pada akhirnya saya tidak jadi ikut lomba karena gejala yang saya alami. Saya memang keberatan untuk mengikutinya, tapi saya tidak sanggup menolaknya. Salah satu penyebab stres saya adalah tidak mampu berkata tidak. Semua diiyakan, alasan tidak enak kalau menolak. Tapi kalau cowok saya tolak semua, rasanya ga enak juga sih. Tapi terlalu banyak hal saya iyakan, jadi untuk pacaran saya kesampingkan dulu saat itu.
Penyebab stres sekarang juga masih sama. Saya masih tidak enakan kalau menolak.
Kapan sih saya sadar sama penyebab - penyebab saya stres? Saat saya sudah pergi ke psikiater. Kami berbincang, tanya jawab, lebih banyak saya yang cerita.
Setelah tau penyebab - penyebab saya stres, yang harus saya lakukan adalah memikirkan solusinya. Sampai saat ini masih saya coba untuk berkata tidak. Rasanya ga enak, ngeliat ekspresi yang ditolak juga ga enak, saya pun merasa bersalah. Tapi saya ga mau stres lagi, kalau saya stres mereka juga ga ikut membantu saya untuk sembuh dari gejala - gejala yang timbul akibat stres.
Berat memang berkata tidak, tapi apakah saya harus membahagiakan semua orang dengan berkata 'ya'.
Penyebab stres saya lainnya adalah semua hal harus sesuai keinginan saya. Masalah nilai ketika sekolah wajib bagus, prilaku saya harus saya jaga, kebersihan juga harus saya jaga, tata tertib harus saya patuhi, untuk urusan - urusan ini saya terapkan hanya kepada diri saya, saya cenderung perfeksionis. Diterapkan kepada diri sendiri saja sudah bikin saya stres, untung tidak saya terapkan ke orang lain, bisa makin stres karena mengatur manusia sesuai keinginan itu akan sangat sulit.
Saran dari dokter adalah saya harus bisa bersantai, menikmati keadaan, mengalami apa yang saya alami, tidak apa-apa kalau tidak sesuai keinginan saya, di lain waktu bisa dicoba lagi.
Saya di kehidupan nyata adalah orang yang benar - benar berbeda dengan orang yang di blog ini. Padahal itu masih saya - saya juga.
Saya seperti memiliki dua sisi. Di satu sisi semuanya harus sesuai keinginan, harua sempurna. Di sisi lain, saya merasa itu bukan saya. Saya takut kalau orang lain tau hal ini mereka akan menggosipkan saya, menjauhi saya. Saya memiliki kecemasan berlebihan, ini juga jadi salah satu penyebab saya stres.
Dari hal - hal yang saya ceritakan tadi ada satu hal yang akhirnya baru saya sadari sekarang, yaitu saya sulit menemukan tim yang cocok untuk saya. Saya sulit beradaptasi. Sejak sekolah bila kerja kelompok memang seringnya saya yang mengerjakan sendiri, anggota lain selalu ada alasan tidak bisa mengerjakan. Karena kebiasaan anggota lain yang banyak alasan, akhirnya saya terbiasa mengerjakan sendiri. Makanya ketika saya bertemu orang yang cocok, dalam artian dia pun mau ikut berusaha mengerjakan tugas tim, saya merasa sangat beruntung. Orang yang langka. Untungnya ketika bekerja, orang yang satu tim dengan saya bisa diandalkan. Tapi namanya juga manusia, walaupun visinya sama tapi misinya beda-beda. Berbenturan dengan pendapat-pendapat lain, dan saya kesulitan berkata tidak, lagi - lagi ini jadi salah satu penyebab stres saya.
Cemen banget ga sih masalah - masalah saya. Iya memang cemen, memang sepele. Nah dari yang sepele-sepele ini tidak dicari solusinya, ditumpuk saja makin lama makin besar jadi jauh dari kata sepele. Masalah - masalah kecil yang tidak diatasi, menumpuk lalu menjadi stres, dari stres yang tidak diatasi bisa membuat depresi. "Oh hidupku penuh dengan masalah!", muncul pernyataan seperti itu karena masalah - masalah yang tak teratasi lalu menumpuk jadi besar.
Ga karuan banget deh. Dipandang orang lain betapa lemahnya. Mereka ga tau seberapa sulitnya bertahan seseorang dengan semua masalah yang dipendam. Saya beruntung, psikiater pertama yang saya temui cukup membantu, tidak semua hal saya sependapat dengannya, tapi syukurlah saya tidak bertemu dengan tipe psikiater yang Lee Suho dari webtoon True Beauty temui, psikiater yang tidak peduli terhadap yang kita alami hanya fokus memberikan obat. Ada ga sih psikiater yang seperti Suho temui? Jawabannya ada. Saya pernah menemukannya. Memang benar-benar hanya fokus terhadap obat, saya mikirnya udah kaya sales obat. Maaf. Memang seperti itu rasanya saat saya bertemu dengan psikiater yang hanya fokus pada obat, yang tidak segan menambah dosisnya. Beberapa obat bisa menimbulkan efek samping yang lumayan, apalagi obat-obatan yang didapat dari psikiater itu bukan obat yang mudah ditemui dan didapat juga punya efek samping yang berbeda di tiap orang dan yang pasti perlu pengawasan. Dari psikiaterku sendiri, saya diberi obat edisi terbaru dengan efek samping yang minimal tapi untuk merasakan manfaatnya perlu waktu agak lama. Lalu karna suatu hal, aku pindah dari psikiater ini. Dan dapat psikiater kaya Suho, awalnya enak apalagi dikasih obat yang beda, mantap manfaatnya langsung terasa. Lama-lama kok seperti berkurang manfaatnya, lantas ditambahi dosisnya.
Saya punya prinsip 'high risk high return' manfaat sebesar ini, efek sampingnya sebesar apa? Setelah cari informasi, saya pikir saya perlu balik lagi ke psikiater pertama. Di psikiater pertama ini saya ga bisa langsung balik ke obat yang pertama saya dapatkan. Pertama saya harus mengurangi dosis obat dari dokter kedua secara perlahan, ga bisa langsung drastis turun dosisnya. Setelah itu selesai baru deh saya balik ke obat pertama saya sembari dikasih wejangan-wejangan dalam menghadapi hidup ini. Manfaat dari obat yang pertama ini rasanya super lama, untuk efek sampingnya badan saya sudah beradaptasi tidak seperti saat pertama kali yang rasanya nyiksa banget. Kalau dibanding dengan obat dari dokter kedua, ini ga ada apa - apanya.
Ads
Saturday, 8 June 2019
Sunday, 2 June 2019
Rekreasi atau Tabung?
Ngeliat temen-temen jalan-jalan ke sana ke mari, aku juga ingin. Enak kali ya yang kerjanya sambil jalan-jalan? Tapi bakal jadi bias ga yang mana lagi kerja yang mana lagi libur? Kerja sambil liburan itu artinya liburan sambil kerja gitu? Aku kayanya ga cocok kerja yang tanpa jam kerja. Awalnya mungkin aku bakal suka tapi lama kelamaan jadi ngerasa kalo yg kujalani ini no life. Biar ke sana ke mari tapi aku bekerja. Libur ya libur, kerja ya kerja. Skip pemikiranku yang ini.
Rekreasi bagiku bisa menambah pengalaman. Dan pengalaman itu membentuk kepribadianku di masa sekarang. Menambah pengetahuanku tentang tempat, adat di tempatku berekreasi. Bagiku itu jadi ilmu, karena saat aku memperhatikan bagaimana cara orang-orang ini bersikap, berkomunikasi, aku jadi tahu cara memperlakukan mereka, lalu membangun hubungan dengan mereka. Kalau suatu saat aku kembali lagi ke tempat itu dan tidak bertemu dengan orang - orang yg sebelumnya ku temui, aku akan tetap bisa berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan mereka karena aku pernah punya pengalaman berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan mereka. Bukan kah ini juga akan berguna ketika aku bertemu lagi dengan orang-orang yg pernah ku temui atau orang - orang dari tempat yang sama maka komunikasiku bisa lancar. Selain komunikasi, interaksi, banyak juga yang akan jadi bahan pembelajaran untukku dari hasil aku rekreasi.
Tapi pilihanku hanya 2, pertama aku bisa rekreasi tapi tidak bisa menabung. Kedua aku bisa menabung tapi tidak bisa berekreasi.
Pilihanku jatuh kepada pilihan kedua. Uangku tak seberapa, jelas akan langsung habis bila kupakai untuk rekreasi. Huft ternyata aku tak hidup hanya untuk sehari, hari esok harus ku persiapkan.
Aku juga belum punya sebidang tanah. Setidaknya bisa ku jual kalau aku ngotot ingin rekreasi dan setelah itu kehabisan uang.
Haha.
Tapi rekreasi tidak selalu mahal! Benar. Pertimbangan lain adalah waktu. Sekedar dari Jakarta ke Bogor, yah ke Kebun Raya deh kan sudah termasuk jalan-jalan juga. Tapi waktunya? Selain tak punya uang rupanya aku tak punya waktu juga. Padahal untuk jarak yang sedekat itu.
Pusing ga sih? Kadang kupikirkan, kadang malah tak sempat terpikirkan. Namun kali ini sedang kupikirkan. Pergi rekreasi untuk menenangkan diri. Jadi teringat ketika ku sedang sangat mumet di tempat kerja, lalu aku pergi ke luar, ke alfamart tepatnya, jaraknya dekat. Benar-benar membuat plong setelah aku keluar gedung lalu berjalan menuju minimarket. Sangat ku nikmati betapa nikmatnya udara dan suasana petang saat itu.
Reksiku ketika mumet biasanya adalah menangis, kalau bukan menangis maka akan marah-marah yang seringnya berujung dengan dimarahin balik. Itu membuatku semakin mumet. Setelahnya aku menjadi menyesal karena memarahi orang-orang.
Jadi bagaimana dengan rekreasi atau tabungan?
Yang pasti aku harus mengatur segalanya. Waktu dan juga uang. Dan yang terpenting adalah menjaga kesehatanku agar saat datang waktu tepat aku bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Aku bekerja namun aku tetap punya waktu untuk rekreasi.
Rekreasi bagiku bisa menambah pengalaman. Dan pengalaman itu membentuk kepribadianku di masa sekarang. Menambah pengetahuanku tentang tempat, adat di tempatku berekreasi. Bagiku itu jadi ilmu, karena saat aku memperhatikan bagaimana cara orang-orang ini bersikap, berkomunikasi, aku jadi tahu cara memperlakukan mereka, lalu membangun hubungan dengan mereka. Kalau suatu saat aku kembali lagi ke tempat itu dan tidak bertemu dengan orang - orang yg sebelumnya ku temui, aku akan tetap bisa berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan mereka karena aku pernah punya pengalaman berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan mereka. Bukan kah ini juga akan berguna ketika aku bertemu lagi dengan orang-orang yg pernah ku temui atau orang - orang dari tempat yang sama maka komunikasiku bisa lancar. Selain komunikasi, interaksi, banyak juga yang akan jadi bahan pembelajaran untukku dari hasil aku rekreasi.
Tapi pilihanku hanya 2, pertama aku bisa rekreasi tapi tidak bisa menabung. Kedua aku bisa menabung tapi tidak bisa berekreasi.
Pilihanku jatuh kepada pilihan kedua. Uangku tak seberapa, jelas akan langsung habis bila kupakai untuk rekreasi. Huft ternyata aku tak hidup hanya untuk sehari, hari esok harus ku persiapkan.
Aku juga belum punya sebidang tanah. Setidaknya bisa ku jual kalau aku ngotot ingin rekreasi dan setelah itu kehabisan uang.
Haha.
Tapi rekreasi tidak selalu mahal! Benar. Pertimbangan lain adalah waktu. Sekedar dari Jakarta ke Bogor, yah ke Kebun Raya deh kan sudah termasuk jalan-jalan juga. Tapi waktunya? Selain tak punya uang rupanya aku tak punya waktu juga. Padahal untuk jarak yang sedekat itu.
Pusing ga sih? Kadang kupikirkan, kadang malah tak sempat terpikirkan. Namun kali ini sedang kupikirkan. Pergi rekreasi untuk menenangkan diri. Jadi teringat ketika ku sedang sangat mumet di tempat kerja, lalu aku pergi ke luar, ke alfamart tepatnya, jaraknya dekat. Benar-benar membuat plong setelah aku keluar gedung lalu berjalan menuju minimarket. Sangat ku nikmati betapa nikmatnya udara dan suasana petang saat itu.
Reksiku ketika mumet biasanya adalah menangis, kalau bukan menangis maka akan marah-marah yang seringnya berujung dengan dimarahin balik. Itu membuatku semakin mumet. Setelahnya aku menjadi menyesal karena memarahi orang-orang.
Jadi bagaimana dengan rekreasi atau tabungan?
Yang pasti aku harus mengatur segalanya. Waktu dan juga uang. Dan yang terpenting adalah menjaga kesehatanku agar saat datang waktu tepat aku bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Aku bekerja namun aku tetap punya waktu untuk rekreasi.
Saturday, 11 May 2019
Merawat Wajahku
Di bulan ini aku nyobain pake toner 7 kali tap-tap. Aku punya toner dari Viva dan Hada Labo yang udah cukup lama ga aku pake. Pertama, aku ga pake toner Vivaku karna dulu tuh aku salah cara, jadi aku pake toner setelah pake susu pembersih. Seharusnya tonernya dipake setelah cuci muka. Kedua, aku ga pake toner Hada Labo, btw toner Hada Labo ini sih lotion ya dikemasannya tapi tetap saja aku anggap toner kalo sekarang, nah aku ga pake ini karna aku ga cocok, mukaku langsung muncul bintil-bintil calon jerawat kecil-kecil gitu, makanya aku hentikan pemakaiannya. Susu pembersih Viva juga udah ga aku pake, karna aku kan pakenya micellar water.
Nah awal bulan kemaren, entah kenapa aku perhatikan lagi produk-produk yang udah aku hentikan pemakaiannya. Belum kadaluarsa. Terus aku juga nonton tuh orang pake 7x tap-tap toner, dan aku ikutan. Tapi kalo aku 7x tap-tap toner itu toner yang sama. Nah karna aku punya dua toner aku pake yang Viva sampe 3x tap-tap, 4x tap-tap lagi pake Hada Labo. Setelah pake toner aku lanjut pake produk pelembabku.
Jadi urutanku saat itu adalah bersihin wajah pake micellar water, cuci muka pake face wash, tap-tap 7x toner, aloe gel, pelembab Ponds, sunscreen Skin Aqua, bedak tabur Mars. Hasilnya keren banget, wajahku jadi ga berminyak separah sebelum aku pake 7x tap-tap toner itu. Dalam sehari aku pake 2x kertas minyak tiap siang dan petang. Dan saat pertama kali aku coba 7x tap-tap itu aku cuma pake sekali doang kertas minyaknya dan itupun pas malem. Keren banget. Tapi aku ga langsung seneng saat itu, besok coba lagi deh. Dan bener besoknya minyak di wajahku terkontrol banget. Udah 5 harian aku penasaran sama exfoliation toner. Berhubung wajahku itu berminyak, hm kombinasi juga sih, jadi yang cocok buatku tuh pake yang mengandung BHA. Aku belom pernah pake toner exfoliation, pernah nyoba Hada Labo face wash yang ada AHA/BHA tapi aku ga merasakan efek apa-apa.
Karena aku belum pernah pake acid, jadi aku cari produk yang paling ringan formulanya untuk perkenalan di wajahku. Aku akhirnya beli Cosrx AHA/BHA Clarifying Treatment Toner. Belinya di online shop kepercayaanku, karena aku belum nemu official storenya. Aku pakenya jarang-jarang, dalam seminggu hanya 3x. Aku kenalin pelan-pelan aja biar ga kaget kulitku. Sampai saat ini sih aku belum merasakan efeknya ya. Kulitku begini-begini saja. Mungkin kurang kali ya kandungan acidnya. Nanti deh setelah jelas cocok aku cari lagi toner yang kandungannya lebih tinggi. Aku pake toner ini hanya pada malam hari tiap abis cuci muka, dan sebelum aku pakein tonerku yang sampe 7x aku tap-tap. Toner Corsx itu aku pake cuma tap-tap sekali.
Selain beli toner Cosrx aku juga beli serum. Takut mukaku jadi kering aku mikirnya. Aku beli Safi Age Defy Concentrated Serum. Pake ini setelah aku pake 7x toner. Enak banget pake serum Safi ini. Aku pakenya secukupnya, satu kali pump itu cukup untuk seluruh wajahku. Efeknya mukaku lebih glowing, kenyal, lingkar mataku memudar. Wow. Padahal baru pertama kali pake. Tapi aku pake serum ini hanya kalo pake toner Cosrx itu. Jadi seminggu cuma 3x itupun hanya malam.
Yang selama ini aku gatau adalah aku kira cukup hanya menggunakan micellar water lalu pake face wash. Ternyata wajah masih perlu dibersihkan dengan susu pembersih. Apalagi aku pake tabir surya, ga sekedar pelembab aja. Jadi aku perlu banget tuh bersihin muka pake susu pembersih biar ngangkat debu, kotoran dan tabir surya. Stok micellar waterku masih banyak jadi micellar water ini tetap aku gunakan setelah aku pake susu pembersih.
Jadi urutanku adalah pake susu pembersih, micellar water, face wash, toner, pelembab, tabir surya, bedak tabur. Sampai dengan saat ini mukaku ga menunjukkan reaksi negatif. Bagus deh semoga cocok. Nanti aku bahas 1 per satu produknya. Sekarang aku ngantuk abis sahur, mau tidur dulu.
![]() |
| Viva Face Tonic |
![]() |
| Hada Labo lotion for oily skin |
![]() |
| AHA/BHA Clarifying Treatment Toner |
![]() |
| Safi Age Defy Concentrated Serum |
![]() |
| Micellar Water |
Jadi urutanku adalah pake susu pembersih, micellar water, face wash, toner, pelembab, tabir surya, bedak tabur. Sampai dengan saat ini mukaku ga menunjukkan reaksi negatif. Bagus deh semoga cocok. Nanti aku bahas 1 per satu produknya. Sekarang aku ngantuk abis sahur, mau tidur dulu.
Saturday, 6 April 2019
Coba Gimana?
Dulu ya pernah suka sama orang. Gatau orang itu suka apa engga. Yang jelas saat itu, setelah diselidiki ternyata dia udah punya pacar. Patah hati deh. Coba move on. Mungkin bukan saatnya dipertemukan dengan orang itu.
Sampai suatu bertemu dengan seseorang yang kuanggap sosoknya sama seperti orang yang ku sukai. Dari rupanya, suaranya, cara bicaranya... Kalau aku ngobrol langsung dengan orang yang dulu ku sukai itu mungkin sosoknya sama seperti yang ku temui ini. Mungkin dia yang dulu ku sukai bukan jodohku. Apakah orang yang sekarang ku temui itu adalah jodohku? Aku harap. Bila memang yang dulu ku sukai bukan jodohku, ku harap yang ini adalah jodohku.
Waktu berlalu. Bertahun-tahun lamanya. Dengan orang baru yang sempat ku kira jodohku karena aku pikir dia punya kemiripan dengan orang yg dulu ku sukai ternyata aku tak berjodoh juga. Kami memang sesekali mengobrol walau dalam waktu yang sangat singkat. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Teman? Ah kami hanya sesekali mengobrol itupun sebentar. Kami punya pekerjaan masing-masing.
Dengan orang yang dulu kusukai? Dalam satu tahun, dan setiap tahunnya kami selalu sempat berkomunikasi. Walau sebentar. Membuatku terus berharap. Sampai sekarang. Dengan orang ini.
Pernah dia tiba-tiba datang ke tempat kerjaku. Pernah dia tiba-tiba datang ke rumahku.
Pernah dia datang lagi ke rumahku.
Pernah dia mengantarku pulang ke rumahku.
Pernah juga aku datang ke kotanya..
Pernah aku merindukannya. Sampai sekarang. Apa mungkin dia akan datang lagi? Apa mungkin dia juga punya perasaan yang sama sepertiku sampai sekarang?
Tentang orang baru itu, ternyata dari sebelum kita bertemu dia baru saja berkeluarga. Itu baru ku ketahui setelah 2 tahun berlalu. Tau dari orang lain. Dulu kirain masih single, makanya saya berharap.
2019.
Pertengahan Januari.
Tidak biasanya orang baru ini mengajakku berbicara dengan obrolan yang dimulai dengan kalimat "Saya mimpiin m*w*r (sebut saja namaku mawar)" Lalu ku jawab bahwa itu hal biasa karena kita kan satu tempat kerja. Memimpikan orang-orang di sekitar kita adalah hal biasa. Ucapan selanjutnya dari dia adalah "tapi saya jarang mimpiin orang-orang yang ada di tempat kerja, baru sekali mimpiin m*w*r (sebut saja namaku mawar)". Kemudian aku tanya lagi, " memangnya mimpiin apaan? Ngapain?" Heran aku begini aja diceritain kataku dalam hati. Dia jawab, "ya mimpinya ya gini-gini aja tentang kegiatan sehari-hari di sini. Tapi saya baru pertama kali mimpiin mawar padahal udah kenal bertahun-tahun".
Bingung sebenernya mau jawab apa, jadi aku haha hihi aja. Ini kode kali ya pengen ngobrol tapi bingung mau mulai dari apa perbincangannya.
Yaudah aku ngobrol tuh, terus cerita - cerita. Terus dia bilang suka sama aku dari awal ketemu. Dia bilang ya suka sekedar seneng gitu ngeliat aku, kan suka ga mesti memiliki katanya, ngeliat aku aja dia udah cukup seneng. Terus kami tukeran nomor hp, minta kasih tau namaku, aku bilang panggil aja mawar tapi dia ga percaya haha ga ada yang tau nama asliku. Dengan dia pun aku tak punya rencana untuk memberitahu namaku. Dia minta nomerku tapi aku ga minta nomernya dia. Kenapa ya? Bingung buat apa, malu juga. Lagian mau ngomong apaan emang.
Wushhhhhhh.... Hari-hari berlalu, dia datang lagi, bilang abis solat subuh terus dia tidur eh mimpiin aku lagi. Aku tanya mimpi apa lagi, jawabannya ya mimpiin aku aja. Gatau deh aku dia mimpiin aku gimana.
Dari orang baru ini aku jadi merenung.
Bahwa aku pernah menelepon yang dulu kusukai karena aku memimpikannya. Apakah memulai pembicaraan dengan bilang aku mimpiin kamu itu lagi tren ya di hidupku?
Hm padahal aku sering mimpiin orang yang dulu kusukai itu tapi kalo sampe nelpon terus bilang aku mimpiin kamu itu baru sekali. Sampe sekarang pun masih suka mimpiin orang yang dulu kusukai. Apa karena aku saking sukanya ya. Mimpiin dia tuh mimpiin gimana? Mimpinya ya tentang kegiatan sehari-hari aja, kadang malah di mimpiku hanya ada dia tanpa ada aku, berasa nonton cctv jadinya.
Lalu yang membuatku merenung lagi adalah dulu orang yang dulu kusukai ini juga bilang pernah suka kepadaku. Pernah suka. Aku bilang ke dia kalo aku juga pernah suka sama dia. Ada yang ga ku ucapkan ke dia, harusnya aku bilang sampai saat ini aku tetap menyukainya. Hal yang ku sesali karna tak ku katakan. Sementara orang baru ini bilang kepadaku kalau dari awal bertemu denganku hingga saat ini dia masih menyukaiku, makanya dimanapun dia selalu sempet-sempetin lewatin tempatku. Katanya dia mau liat aku, seneng kalo liat aku, apalagi kalo akunya senyum. Gombal ga sih?
Tapi kalimat-kalimat dari orang baru ini juga yang ingin ku ucapkan kepada orang yang dulu hingga kini ku sukai. Aku suka kamu, walau ga harus memiliki, tapi ngeliat kamu, apalagi kalo kamu senyum itu udah bikin aku bahagia.
Gimana ya selanjutnya, gimana hubunganku dengan orang yang dulu hingga kini kusukai? Tahun ini aku belum berkomunikasi sama sekali. Biasanya komunikasi saat tanggal ulang tahun.
Move on itu agak sulit. Tiap bertemu kenalan baru, selalu ada yang sesuatu yang mirip dengan orang yang ku sukai, nama panggilan misalnya. Uh aku rindu memanggil 2 huruf dari namanya. Dan orang-orang yang kutemui ternyata mempunyai 2 huruf yang sama dengan orang yang dulu hingga kini ku sukai. Susah move on.
Aku selalu berharap yang terbaik untuk orang yang dulu hingga kini kusukai, walau tanpa aku. Aku harap bila dia butuh bantuan dia tak akan sungkan meminta bantuan kepadaku. Dengan senang hati akan ku bantu. Hm agak mustahil sih minta bantuanku karena dia serba bisa mengatasi masalahnya. Jadi aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang yang dulu hingga kini kusukai.
Sampai suatu bertemu dengan seseorang yang kuanggap sosoknya sama seperti orang yang ku sukai. Dari rupanya, suaranya, cara bicaranya... Kalau aku ngobrol langsung dengan orang yang dulu ku sukai itu mungkin sosoknya sama seperti yang ku temui ini. Mungkin dia yang dulu ku sukai bukan jodohku. Apakah orang yang sekarang ku temui itu adalah jodohku? Aku harap. Bila memang yang dulu ku sukai bukan jodohku, ku harap yang ini adalah jodohku.
Waktu berlalu. Bertahun-tahun lamanya. Dengan orang baru yang sempat ku kira jodohku karena aku pikir dia punya kemiripan dengan orang yg dulu ku sukai ternyata aku tak berjodoh juga. Kami memang sesekali mengobrol walau dalam waktu yang sangat singkat. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Teman? Ah kami hanya sesekali mengobrol itupun sebentar. Kami punya pekerjaan masing-masing.
Dengan orang yang dulu kusukai? Dalam satu tahun, dan setiap tahunnya kami selalu sempat berkomunikasi. Walau sebentar. Membuatku terus berharap. Sampai sekarang. Dengan orang ini.
Pernah dia tiba-tiba datang ke tempat kerjaku. Pernah dia tiba-tiba datang ke rumahku.
Pernah dia datang lagi ke rumahku.
Pernah dia mengantarku pulang ke rumahku.
Pernah juga aku datang ke kotanya..
Pernah aku merindukannya. Sampai sekarang. Apa mungkin dia akan datang lagi? Apa mungkin dia juga punya perasaan yang sama sepertiku sampai sekarang?
Tentang orang baru itu, ternyata dari sebelum kita bertemu dia baru saja berkeluarga. Itu baru ku ketahui setelah 2 tahun berlalu. Tau dari orang lain. Dulu kirain masih single, makanya saya berharap.
2019.
Pertengahan Januari.
Tidak biasanya orang baru ini mengajakku berbicara dengan obrolan yang dimulai dengan kalimat "Saya mimpiin m*w*r (sebut saja namaku mawar)" Lalu ku jawab bahwa itu hal biasa karena kita kan satu tempat kerja. Memimpikan orang-orang di sekitar kita adalah hal biasa. Ucapan selanjutnya dari dia adalah "tapi saya jarang mimpiin orang-orang yang ada di tempat kerja, baru sekali mimpiin m*w*r (sebut saja namaku mawar)". Kemudian aku tanya lagi, " memangnya mimpiin apaan? Ngapain?" Heran aku begini aja diceritain kataku dalam hati. Dia jawab, "ya mimpinya ya gini-gini aja tentang kegiatan sehari-hari di sini. Tapi saya baru pertama kali mimpiin mawar padahal udah kenal bertahun-tahun".
Bingung sebenernya mau jawab apa, jadi aku haha hihi aja. Ini kode kali ya pengen ngobrol tapi bingung mau mulai dari apa perbincangannya.
Yaudah aku ngobrol tuh, terus cerita - cerita. Terus dia bilang suka sama aku dari awal ketemu. Dia bilang ya suka sekedar seneng gitu ngeliat aku, kan suka ga mesti memiliki katanya, ngeliat aku aja dia udah cukup seneng. Terus kami tukeran nomor hp, minta kasih tau namaku, aku bilang panggil aja mawar tapi dia ga percaya haha ga ada yang tau nama asliku. Dengan dia pun aku tak punya rencana untuk memberitahu namaku. Dia minta nomerku tapi aku ga minta nomernya dia. Kenapa ya? Bingung buat apa, malu juga. Lagian mau ngomong apaan emang.
Wushhhhhhh.... Hari-hari berlalu, dia datang lagi, bilang abis solat subuh terus dia tidur eh mimpiin aku lagi. Aku tanya mimpi apa lagi, jawabannya ya mimpiin aku aja. Gatau deh aku dia mimpiin aku gimana.
Dari orang baru ini aku jadi merenung.
Bahwa aku pernah menelepon yang dulu kusukai karena aku memimpikannya. Apakah memulai pembicaraan dengan bilang aku mimpiin kamu itu lagi tren ya di hidupku?
Hm padahal aku sering mimpiin orang yang dulu kusukai itu tapi kalo sampe nelpon terus bilang aku mimpiin kamu itu baru sekali. Sampe sekarang pun masih suka mimpiin orang yang dulu kusukai. Apa karena aku saking sukanya ya. Mimpiin dia tuh mimpiin gimana? Mimpinya ya tentang kegiatan sehari-hari aja, kadang malah di mimpiku hanya ada dia tanpa ada aku, berasa nonton cctv jadinya.
Lalu yang membuatku merenung lagi adalah dulu orang yang dulu kusukai ini juga bilang pernah suka kepadaku. Pernah suka. Aku bilang ke dia kalo aku juga pernah suka sama dia. Ada yang ga ku ucapkan ke dia, harusnya aku bilang sampai saat ini aku tetap menyukainya. Hal yang ku sesali karna tak ku katakan. Sementara orang baru ini bilang kepadaku kalau dari awal bertemu denganku hingga saat ini dia masih menyukaiku, makanya dimanapun dia selalu sempet-sempetin lewatin tempatku. Katanya dia mau liat aku, seneng kalo liat aku, apalagi kalo akunya senyum. Gombal ga sih?
Tapi kalimat-kalimat dari orang baru ini juga yang ingin ku ucapkan kepada orang yang dulu hingga kini ku sukai. Aku suka kamu, walau ga harus memiliki, tapi ngeliat kamu, apalagi kalo kamu senyum itu udah bikin aku bahagia.
Gimana ya selanjutnya, gimana hubunganku dengan orang yang dulu hingga kini kusukai? Tahun ini aku belum berkomunikasi sama sekali. Biasanya komunikasi saat tanggal ulang tahun.
Move on itu agak sulit. Tiap bertemu kenalan baru, selalu ada yang sesuatu yang mirip dengan orang yang ku sukai, nama panggilan misalnya. Uh aku rindu memanggil 2 huruf dari namanya. Dan orang-orang yang kutemui ternyata mempunyai 2 huruf yang sama dengan orang yang dulu hingga kini ku sukai. Susah move on.
Aku selalu berharap yang terbaik untuk orang yang dulu hingga kini kusukai, walau tanpa aku. Aku harap bila dia butuh bantuan dia tak akan sungkan meminta bantuan kepadaku. Dengan senang hati akan ku bantu. Hm agak mustahil sih minta bantuanku karena dia serba bisa mengatasi masalahnya. Jadi aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang yang dulu hingga kini kusukai.
Subscribe to:
Posts (Atom)





